Industri Konstruksi Masih Kalah Efisien Dibanding Manufaktur

Industri Konstruksi Masih Kalah Efisien Dibanding Manufaktur

10217 Print

Industri konstruksi dikenal sebagai industri yang kurang efisien bila dibandingkan dengan industri manufaktur. Penyebabnya karena industri konstruksi dianggap menghasilkan nilai tambah yang kecil sementara disaat yang sama menimbulkan dampak lingkungan yang besar.

Selain itu, setiap tahapan proses konstruksi mulai dari pengembangan ide,  pengoperasian, pemeliharaan, bahkan hingga penghancuran bangunan dilakukan oleh pelaku yang berbeda. Ě”SPenyelenggaraan industri konstruksi masih terfragmentasi, belum terkoordinir dengan baikĚ”‚, ungkap Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Hediyanto W. Husaini yang mewakili Menteri PU pada acara Seminar Nasional dan Bedah Buku Ě”SRantai Pasok Konstruksi dan Penerapan Rekayasa & Teknologi Untuk Pekerjaan KonstruksiĚ”‚ oleh PT. Waskita Karya, Selasa (05/03).

Salah satu upaya agar agar industri konstruksi lebih efisien adalah harmonisasi rantai pasok konstruksi, baik secara horizontal maupun vertikal. Upaya harmonisasi tersebut tentunya akan melibatkan berbagai regulasi, instansi dan tataniaga, mengingat keterkaitannya cukup luas dan kompleks. Oleh karena itu kepedulian dan keikutsertaan semua pihak yang terkait tentu merupakan sumbangsih yang berarti bagi kemajuan bangsa.

Mengingat sistem rantai pasok merupakan hal yang baru, tahap awal yang dapat dilakukan adalah dengan memindahkan sebagian pekerjaan konstruksi in-situ menjadi pekerjaan pabrikasi. Salah satu contohnya adalah teknologi beton pracetak dan struktur baja yang semakin luas digunakan dalam konstruksi.

Harus selalu diingat, bahwa skala pasar konstruksi Indonesia yang relatif besar, mencapai angka Rp. 390 Triliun, praktis membuat pelaku konstruksi asing melirik penuh antusias ke Indonesia. Jika industri konstruksi nasional tidak diperkuat dan dipastikan rantai pasok konstruksinya aman, bukan tidak mungkin pasar konstruksi Indonesia justru jatuh di tangan anak bangsa lain.

Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Direktur Utama PT. Waskita Karya M. Choliq. Menurutnya untuk dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri bahkan memenangkan persaingan global membutuhkan kejelasan rantai pasok material dan peralatan konstruksi. Untuk itulah dukungan pemerintah beserta Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi sangat diperlukan bagi para pelaku jasa konstruksi nasional.

Pada kesempatan ini, Kepala Pembinaan Sumber Daya Investasi Mochammad Natsir memberikan paparan mengenai sistem rantai Pasok Konstruksi untuk mendukung Investasi Infrastruktur ke-PU-an. Menurutnya, kunci utama mengelola rantai pasok konstruksi yang harmonis dan terintegrasi adalah koordinasi semua lini yang terkait. Ě”SKarena itu, Kementerian PU sebagai Pembina industri konstruksi harus mengambil inisiatif dalam pengelolaan rantai pasok industri konstruksiĚ”‚, ujar Mochammad Natsir. (tw/hl)

Pusat Komunikasi Publik

(5/3/2013)

 

Apakah informasi di atas cukup membantu?

Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR
Facebook: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Twitter: @kemenpu
Instagram: kemenpupr
Youtube: kemenpu
#SigapMembangunNegeri

Berita Terkait