Slide 1

Berita BPIW > BPIW Siapkan Rencana Pengembangan Metropolitan Kedungsepur


Kamis, 09 Juli 2020, Dilihat 542 kali

BPIW Kementerian PUPR susun rencana terpadu pengembangan Kawasan Metropolitan Kedungsepur (Kendal-Demak-Ungaran-Salatiga-Semarang-Purwodadi). Hal itu terungkap dalam rapat "Penyiapan Rencana Pengembangan Metropolitan Kedungsepur" yang dipimpin langsung Kepala BPIW, Hadi Sucahyono di Jakarta, Rabu (8/7). 

"Kedungsepur merupakan bagian dari 10 kawasan metropolitan prioritas untuk dikembangkan di Indonesia," ungkap Hadi saat membuka dan menyampaikan arahan. Menurutnya, banyak hal yang menjadi nilai Kedungsepur menjadi prioritas. Antara lain, kemiringan lahan relatif aman untuk dikembangkan, tersedianya konektivitas dasar dari segala arah, Kedungsepur menyumbang 1/4 Produk Dometik Regional Bruti (PDRB) Jawa Tengah.

"Selain itu, saat ini sudah terbit Peraturan Presiden (Perpres) No. 78/2017 tentang Kedung Sepur dan Perpres 79/2019 tentang Jawa Tengah," Hadi menambahkan. Ia berharap, BPIW gerak cepat menyusun perencanaan terpadu yang implementatif untuk pengembangan infrastruktur PUPR. "Seperti pengembangan infrastruktur konektivitas, perumahan, permukiman dan sanitasi, kemudian penyediaan air baku," tambahnya. 

Rapat koordinasi tersebut dihadiri pula oleh para pakar terkait pengembangan wilayah dan perkotaan, yakni Hermanto Dardak, Andy Siswanto, Wicaksono Sarosa, Denny Zulkaidy, serta Sugiyantoro.  

Dalam paparannya, Hermanto Dardak menyampaikan agar Kedungsepur dapat menjadi prototype untuk kawasan metropolitan lain yang ada di tanah air. Menurutnya, daya dukung kawasan Kedungsepur perlu dicermati dengan seksama, agar lebih memudahkan dalam menerapkan strategi yang akan direalisasikan di Kedungsepur sesuai dengan potensinya.

"Intinya kawasan Kedungsepur perlu ditajamkan sesuai hierarkinya. Kemudian, perlu ada bonding kawasan dengan infrastruktur serta perlu diperkuat pengembangan infrastrukturnya," papar Hermanto.

Andy Siswanto mengatakan bahwa struktur metropolitan Kedungsepur merupakan kawasan yang kumplit, yakni mempunyai pantai, daratan dan perbukitan. “Untuk itu, struktur kawasan hijau jangan banyak diubah, namun kotanya yang dimaksimalkan sebagai compact city,” terang Andy.

Menurutnya, akan lebih baik untuk Kedungsepur apabila nantinya radial jalan ditambahkan serta ada 2 jalan lingkar yang berada di hinterland di Kota Semarang dan kabupaten di sekitarnya.

Wicaksono Sarosa, menyampaikan bahwa kawasan Kedungsepur sejak 2014 merupakan kawasan kompetitif di regional Asia Timur terbukti dengan adanya hasil studi dari Harvard yang menjelaskan bahwa kawasan Semarang dan sekitarnya dianggap lebih kompetitif dibanding Bangladesh dan lainnya.

"Kemudian, di sekitar Kedungsepur itu ada Kawasan Industri (KI) Batang. Hemat saya, ada baiknya dalam perencanaan pengembangan Kedungsepur dimasukan juga Batang, agar perencanaannya makin terintegrasi karena Batang itu lokasinya sebelahan dengan Kendal," papar Wicak.

Selain itu, Denny menjelaskan, saat ini perlu kajian mendalam mengenai tata ruang (Taru) eksisting di Kedungsepur terkait akan adanya modifikasi taru baru.

"Diperlukan identifikasi kegiatan fungsional primer dan sekunder secara mendalam, karena nanti akan berdampak pada struktur ruang, jalan dan lainnya" terang Denny.

Kemudian, Sugiyantoro menerangkan, ada hal yang perlu dicermati dalam pengembangan metropolitan Kedungsepur. "Hal yang perlu dicermati adalah data dampak pemanfaatan tata ruang, agar dalam implementasi pengembangan tidak berdampak buruk terhadap keberlanjutan lingkungan," ujarnya.

Sebelum menutup rapat, Hadi menyatakan, BPIW akan segera menurunkan tim ke lapangan guna mengidentifikasi semua potensi dan masalah yang ada di kawasan Kedungsepur.(ris/infoBPIW)



‚Äč