Slide 1

Berita Ditjen Bina Marga > Antisipasi Kerusakan Badan Jalan, Tol Purbaleunyi KM 118 Pasang Sheet Pile


Jumat, 21 Februari 2020, Dilihat 2289 kali

Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga tengah melakukan penanganan di Tol Cipularang, tepatnya di KM118+400 Tol Purbaleunyi usai longsor yang menerjang tol tersebut pada pekan lalu. Longsor terjadi di kedua sisi tol, baik jalur A (Jakarta menuju Bandung) maupun jalur B (Bandung menuju Jakarta). Walau demikian, tol Purbaleunyi masih tetap bisa dilalui oleh kendaraan.

Kepada para anggota Komisi V DPR RI yang meninjau lokasi longsor saat Kunjungan Kerja Spesifik pada Kamis (20/02), Direktur Jalan Bebas Hambatan dan Perkotaan, Hedy Rahadian menyampaikan bahwa longsor yang terjadi di ruang milik jalan Tol Purbaleunyi KM 118 terjadi bukan secara tiba-tiba, melainkan sejak Desember 2019 dan dimulai dari jalur A Tol Purbaleunyi KM118+400. Longsor tersebut menutup gorong-gorong sehingga menyebabkan air tidak dapat mengalir dan menjadi genangan. Dikarenakan air tak dapat mengalir, maka terjadi rembesan ke arah timbunan di jalur B sehingga terjadi peningkatan kejenuhan air pada lokasi longsoran.

“Saat ini kami sedang melakukan perkuatan untuk mencegah longsor susulan dan mengisolasi daerah sekitar gorong-gorong sehingga bisa dikeringkan. Dikeringkan dengan pemompaan dan mencegah air masuk dengan cara pemipaan. Setelah nanti bisa membuka gorong-gorong, maka tidak ada lagi akumulasi air karena sudah dialirkan ke bawah,” terang Hedy.

Menurut Hedy, dampak longsor yang paling mengancam berada di jalur B karena longsor berjarak 3,7m dari tepi bahu jalan tol. Untuk menjaga badan jalan, Ditjen Bina Marga melakukan penanganan darurat dengan memasang sheet pile di lokasi tersebut. Pemasangan sheet pile dimulai pada Kamis (20/02) dan diperkirakan akan memakan waktu sekitar 10 hari ke depan. Pekerjaan ini akan mengganggu arus lalu lintas karena hanya menyisakan 2 lajur dari arah Bandung menuju Jakarta.

“Untuk menghadapi kepadatan arus lalu lintas, kami telah disiapkan beberapa skenario. Pertama, selama masa perbaikan, truk akan dialihkan ke lajur kanan ke arah Jakarta, karena truk bebannya berat jadi kita tidak mau ada longsor susulan. Kedua, apabila terjadi kemacetan ekstrem atau cuaca ekstrem, maka akan dilakukan contra flow. Namun, apabila contra flow tidak membantu, maka arus lalu lintas akan dialihkan melalui Jatiluhur ke jalan nasional.”

Hedy menambahkan bahwa Ditjen Bina Marga juga akan melakukan penanganan permanen dengan melakukan rekonstruksi yang memakan waktu sekitar 1 bulan.

“Karena tanahnya sudah menjadi lumpur, ini merupakan mud flow (lumpur yang bergerak) karena penjenuhan. Maka akan kita rekonstruksi dari bawah akan ditimbun. Kita juga cek secara teknis, kalau tidak cukup aman akan dilakukan perkuatan dengan retaining structure, apakah sheet pile atau bore pile sampai ke atas,” pungkas Hedy.

Kompu BM



‚Äč