Slide 1

Berita BPPSPAM > Konsumsi Air Sehat Melalui Layanan ZAMP


Kamis, 13 Februari 2020, Dilihat 53 kali

Zona Air Minum Prima, atau yang biasa disebut dengan ZAMP, adalah zona atau wilayah khusus yang dirancang sebagai kawasan pelayanan dengan kualitas air telah memenuhi standar dan merupakan air siap minum, atau lebih jelasnya air yang disalurkan ke wilayah tersebut sudah memenuhi syarat untuk bisa diminum langsung tanpa harus dimasak terlebih dulu. Penerapan proyek ZAMP telah dilakukan di tiga kota, yaitu Bogor, Malang, dan Medan, sebagai area percontohan untuk mewujudkan pelayanan air yang langsung dapat diminum di beberapa titik zona yang ditentukan. Selain tiga kota tersebut, daerah yang saat ini sudah memiliki ZAMP, yaitu Kabupaten Bogor, Kota Tangerang, Kota Padang Panjang, Kabupaten Buleleng, Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru (PDAM Intan Banjar).

ZAMP pada BUMD Air Minum, atau yang selama ini akrab disebut PDAM, dapat menjadi suatu awalan dalam pemenuhan akses air minum 100% layak dan 15% aman yang tercantum pada rancangan teknokratik RPJMN 2020 – 2024. Akses air minum yang layak dan aman berkelanjutan memiliki hubungan erat dengan kesehatan.

Di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, pencemaran oleh mikro organisme (bakteri atau virus) terhadap badan air maupun dalam suplai air minum merupakan kasus yang sering terjadi serta pencemaran oleh faktor kimia dan fisika misalnya pencemaran oleh senyawa polutan mikro yang bersifat mutagenik dan/atau karsinogenik perlu segera diwaspadai. Kondisi tersebut memaksa agar suatu wilayah dapat menjaga kualitas dan kuantitas air yang disalurkan hingga sampai ke masyarakat untuk bisa dikonsumsi dengan memenuhi persyaratan aman dan layak. Oleh karena itu, pembangunan ZAMP ini memiliki peranan penting sebagai embrio atau langkah awal dalam upaya meningkatkan standar atau taraf kualitas hidup masyarakat, meningkatkan kesehatan lingkungan atau kesehatan masyarakat, serta menurunkan angka penderita penyakit, khususnya penyakit yang berhubungan dengan air.

Pembangunan ZAMP pada kenyataannya tidaklah mudah, terdapat enam aspek penting yang harus dilaksanakan mulai dari komitmen pelayanan, pemilihan lokasi, sosialisasi, operasional dan pemeliharaan, monitoring, hingga pengawasan konstruksi ZAMP. Terdapat beberapa tahapan dalam melaksanakan program ZAMP, antara lain kriteria pemilihan lokasi, pembentukan sistem, pengadaan sarana dan prasarana, dan memenuhi fasilitas untuk menunjang keberhasilan program ZAMP.

Selain sarana dan prasarana, sebuah daerah yang menyatakan telah menerapkan ZAMP tersebut harus menyiapkan standar pelayanan. Pelayanan air minum adalah standar pelayanan produk air minum, meliputi kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan keterjangkauan.

Diharapkan dengan adanya standar tersebut, kondisi air minum yang diproduksi dan/atau didistribusikan dapat tersampaikan kepada pelanggan secara jujur dan transparan. Penerapan program ZAMP pada BUMD Air Minum diharapkan memiliki sistem produksi hingga sistem distribusi yang terpelihara dan berkelanjutan, dengan memastikan bahwa aliran air mengalir 24 jam dengan kualitas air yang sesuai standar Permenkes Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

Selama 4 tahun pertama, dari tahun 2004 hingga 2008, zona wilayah dan jumlah pelanggan yang terlayani dari pelaksanaan program ZAMP di tiga kota percontohan (Bogor, Malang, dan Medan) masih sangat kecil dibandingkan total sambungan pelanggan PDAM. Rendahnya tingkat pengembangan ZAMP dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kebocoran air yang tinggi (mencapai 40 – 50%), kualitas dan kompetensi tenaga kerja yang masih rendah, serta kualitas dan kuantitas air yang tidak memenuhi standar.

Tingginya angka kehilangan air menjadi salah satu faktor yang mempersulit pengembangan ZAMP karena memiliki dampak pada penurunan tekanan dan pengurangan suplai air. Hal lain yang menjadi faktor kendala dalam pelaksanaan ZAMP adalah kebijakan pembangunan dalam penyediaan air di waktu lampau masih mementingkan kuantitas daripada kualitas.

Respon masyarakat terhadap adanya program ZAMP pun beragam dengan adanya pro dan kontra. Di satu sisi, masyarakat dapat merasakan manfaat ZAMP dalam membantu kebutuhan air minum sehari-hari yaitu bisa mendapatkan air dengan kualitas yang lebih baik, namun di sisi lain masyarakat belum terbiasa meminum air tanpa dimasak terlebih dahulu. Masyarakat cenderung kurang menyukai air yang masih berbau chlor (klorin) dan telah terbiasa melihat air keran sebagai air yang masih mentah dan belum aman untuk langsung diminum. Padahal kandungan sisa klor, dengan kadar kandungan di dalam air minum yang diizinkan berkisar antara 0,2 – 0,6 ppm, memiliki peran penting dalam membunuh bakteri yang masuk selama pendistribusian air minum kepada masyarakat dan tidak memberikan efek samping pada kesehatan.

Rendahnya penerapan atau konsumsi air siap minum pada pelanggan di wilayah eksisting ZAMP dapat disebabkan oleh rendahnya kepuasan pelanggan terhadap pelayanan dari BUMD Air Minum. Terdapat kaitan antara dua fenomena tersebut karena pelayanan dari BUMD Air Minum, yang dalam hal ini lebih khusus pada aspek komunikasi, menjadi tombak utama penyebaran pemahaman dan kepercayaan masyarakat kepada penyedia air minum. Maka dari itu, BUMD Air Minum selaku penyelenggara SPAM wajib memberikan info dan juga memperjanjikan pelayanan yang akan diberikan kepada pelanggan. Informasi yang disampaikan oleh BUMD Air Minum dapat berupa pemahaman mengenai program terkini, kualitas air, jam pelayanan, tekanan air, hingga informasi gangguan pelayanan, serta informasi lainnya.

Sebagai bentuk sosialisasi program ZAMP kepada masyarakat, didirikan pula keran/terminal air siap minum yang berada di beberapa lokasi strategis di zona pelayanan yang telah masuk zona air minum prima. Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan animo dan rasa antusias masyarakat terhadap air siap minum menjadi lebih positif.

Keran air minum tersebut dapat dijadikan simbol dari pelaksanaan program ZAMP, namun terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara ZAMP dengan terminal air siap minum. Terminal air siap minum tidak bisa disebut ZAMP, jika penyediaan air pada terminal tersebut sejenis dengan portable water atau tidak melalui proses produksi dan distribusi melalui suatu sistem penyediaan air minum jaringan.

Penempatan beberapa keran air minum pada kenyataannya mengalami beberapa permasalahan dalam operasi dan pemeliharaannya. Berdasarkan hasil evaluasi BPKP tahun 2018, keran air minum yang berada di 10 dari 26 lokasi di PDAM Kota Bogor tidak dapat difungsikan karena rusak. Dari 10 lokasi tersebut, 3 keran air minum ditarik atas permohonan pengelola lokasi. Tindak lanjut dari permasalahan ini, PDAM merencanakan melakukan revisi perjanjian terkait pemeliharaan keran air minum.

Metode sosialisasi ZAMP menggunakan keran air siap minum di Kota Malang menjadi daya tarik tersendiri saat dilakukan peresmian ZAMP di CFD Kota Malang yang kemudian berhasil menarik antusias masyarakat. Terlepas dari permasalahan yang timbul dalam pelaksanaannya, program sosialisasi ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar mengenai manfaat dari penerapan program ZAMP yang ada di daerahnya.

Implementasi program ZAMP telah terbukti cukup baik untuk memberikan pelayanan air minum kepada konsumen serta berperan aktif sebagai langkah awal pemenuhan akses air siap minum langsung dari keran. Walau dalam pelaksanaannya terdapat faktor-faktor yang menjadi penghambat, namun manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan oleh pelanggan maupun BUMD Air Minum.

Faktor-faktor yang bisa ditingkatkan dan menjadi pendukung dalam percepatan pelaksanaan program ZAMP, antara lain kelengkapan sarana dan prasarana penunjang program ZAMP, SDM yang kompeten, serta komitmen direksi BUMD Air Minum dan Pemerintah Daerah. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyedian Air Minum (BPPSPAM) terus mendorong peningkatan sistem penyediaan air minum BUMD Air Minum untuk menyelenggarakan ZAMP, dengan cara memberikan solusi atas hambatan yang ada dan langkah-langkah meningkatkan faktor pendukung, dalam bentuk pendampingan penyusunan rencana aksi.

Selain menjadi alat percepatan pemenuhan akses air minum aman, program ZAMP ini juga adalah upaya yang dilakukan untuk mempercepat peningkatan kinerja PDAM sebagai operator penyelenggaraan SPAM di daerah. Hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya kepercayaan pelanggan terhadap BUMD Air Minum dan meningkatnya konsumsi air pelanggan. Tarif kualitas hidup masyarakat maupun BUMD Air Minum di daerah tersebut dapat turut meningkat seiring peningkatan pelayanan sistem penyediaan air minum.