Slide 1

Berita Ditjen Cipta Karya > Ditjen Cipta Karya Gandeng Kemenko Perekonomian Untuk Capai Target 100% Akses Air Minum


Kamis, 22 Februari 2018, Dilihat 467 kali

Dalam rangka reviu rencana pelaksanaan kegiatan bidang air minum dan air baku terhadap pencapaian target 100% akses air minum pada tahun 2019 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, Dirjen Cipta Karya Sri Hartoyo menghadiri Rapat Koordinasi Reviu Pencapaian Target 100% Akses Air Minum dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, di Jakarta, Kamis (22/02/2018). Rapat koordinasi tersebut dipimpin oleh Asisten Deputi Infrastruktur Sumber Daya Air Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Mohammad Zainal Fatah.
 

Sri Hartoyo mengungkapkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sampai akhir tahun 2017, cakupan pelayanan air minum aman baru mencapai 72,04%, sehingga ada gap sekitar 28% dengan sisa waktu dua tahun. “Artinya, kita harus menambah cakupan akses sekitar 13,9% per tahun, baik melalui jaringan perpipaan maupun bukan jaringan perpipaan terlindungi,” katanya Sri Hartoyo. 

Kementerian PUPR telah mencanangkan Gerakan 100-0-100, yaitu program menuju pemenuhan target 100% akses aman air minum, pengurangan kawasan kumuh menjadi 0%, dan pemenuhan 100% akses sanitasi layak pada tahun 2019. Program tersebut, menurut Sri Hartoyo, untuk mendukung  RPJMN Tahun 2015-2019 yang mengamanatkan tercapainya 100% akses aman air minum bagi seluruh masyarakat Indonesia pada tahun 2019. 

“Khusus terkait air minum, upaya pemenuhan akan akses aman air minum tersebut diwujudkan dalam misi pengembangan air minum, yaitu mewujudkan masyarakat hidup sehat dan sejahtera dengan air minum berkualitas,” katanya. Pelayanan air minum melalui akses aman ini juga harus memenuhi prinsip 4K, yaitu kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan keterjangkauan. 

Sri Hartoyo menjelaskan tentang isu strategis di sektor air minum, di antaranya pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi yang semakin pesat namun tidak diimbangi oleh daya dukung lingkungan. “Kondisi ini dikorelasikan dengan terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas air baku, sementara kebutuhan air minum sampai dengan 2019 mencapai 128 m3/detik,” kata Sri Hartoyo. 

Sri Hartoyo juga mengkritisi kinerja penyelenggara SPAM di daerah yang belum optimal. Sebagai gambaran, kinerja PDAM sebagai salah satu penyelenggara utama SPAM jaringan perpipaan, berdasarkan hasil audit BPPSPAM (2017) terhadap 378 PDAM, sebanyak 209 PDAM (55,3%) berstatus sehat, sisanya 103 PDAM kurang sehat, dan 66 PDAM berstatus sakit. 

"Masih rendahnya komitmen Pemda dalam menyediakan APBD untuk pendanaan pembangunan infrastruktur air minum dan masih tingginya angka idle capacity, yaitu sekitar 38.000 liter/detik," tutur Sri Hartoyo. 

Sri Hartoyo menambahkan, kebutuhan akan permukiman layak dengan akses pelayanan dasar yang memadai, dan kurangnya kepedulian stakeholders pada pembangunan permukiman yang layak bagi semua, aman dan berkelanjutan, menjadi tantangan besar bagi Ditjen Cipta Karya, Kementerian PUPR. (kompuck)



‚Äč