BPSDM Selesaikan Pelatihan Pelaksanaan dan Pengawasan Konstruksi TPA dan IPLT di Bapekom PUPR Wilayah VII Banjarmasin

BPSDM Selesaikan Pelatihan Pelaksanaan dan Pengawasan Konstruksi TPA dan IPLT di Bapekom PUPR Wilayah VII Banjarmasin

231 27 Print

Banjarmasin, 12 Agustus 2022 – Arah kebijakan pembinaan dan pengembangan infrastruktur permukiman dalam mewujudkan smart living berfokus pada 4 (empat) aspek, salah satunya adalah perwujudan permukiman layak huni (livable settlement). Sanitasi merupakan bagian yang tidak terlepaskan untuk mewujudkan permukiman layak huni, dimana telah ditetapkan sasaran adalah meningkatnya kontribusi pemenuhan akses sanitasi, dengan indikator adanya peningkatan akses air limbah layak menjadi 90% di Tahun 2024 (termasuk 15% akses aman) dan peningkatan akses persampahan yang terkelola di perkotaan menjadi 100% untuk dicapai di Tahun 2024 seperti yang tertera dalam sasaran RPJMN 2020-2024.


Dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten untuk mendukung kebijakan dan strategi tersebut, maka Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (BPSDM PUPR) melalui Pusat Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Air dan Permukiman telah menyelesaikan Pelatihan Pelaksanaan dan Pengawasan Konstruksi Tempat Pemrosesan Akhir dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (TPA dan IPLT) secara distance learning di Banjarmasin, Jumat (12/8).


Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Air yang diwakili Kepala Balai Pengembangan Kompetensi PUPR Wilayah VII Banjarmasin, Diki Zulkarnaen, dalam sambutan penutupan pelatihan menyampaikan bahwa pelatihan Pelaksanaan dan Pengawasan Konstruksi TPA dan IPLT merupakan upaya dan pendekatan untuk membekali pemahaman ASN Kementerian PUPR dan Pemerintah Daerah di bidang Sanitasi. Peserta tidak hanya dibekali kemampuan secara teori, namun juga contoh-contoh praktis implementasi berdasarkan pengalaman para pengajar, instruktur dan narasumber serta Studi Kasus dan Seminar, untuk memperkaya pengetahuan para peserta.


“Dengan metode ini diharapkan setelah mengikuti pelatihan, para peserta dapat mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh, dapat berinovasi, serta dapat memahami prinsip-prinsip pengawasan dan pengendalian pembangunan TPA dan IPLT dalam rangka meningkatan kualitas hasil pembangunan infrastruktur bidang sanitasi,” ungkap Diki.


Diki menambahkan, untuk memantau penerapan pengetahuan dan keterampilan hasil pelatihan oleh para alumni, dalam kurun waktu 6 (enam) bulan setelah selesai pelatihan akan dilaksanakan evaluasi pasca pelatihan, dimana alumni peserta pelatihan akan dinilai oleh atasan langsung, sejawat dan bawahan, terkait peningkatan kompetensi pasca pelatihan. Adapun Metode yang dilaksanakan, yaitu dengan cara menyebarkan kuisioner dan wawancara kepada atasan langsung, rekan sejawat dan bawahan.


Dalam pelatihan yang difasilitasi Balai Pengembangan Kompetensi PUPR Wilayah VII Banjarmasin sejak 1 Agustus lalu berhasil meluluskan 24 peserta. 3 (tiga) peserta diantaranya berhasil meraih predikat peserta terbaik, yaitu: Nining Widiyati dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Pemerintah Daerah Kota Cimahi di peringkat terbaik pertama; Nurhayati Junaedi dari Direktorat Sanitasi, Direktorat Jenderal Cipta Karya di peringkat terbaik kedua; dan Aulia Karlina Pebrianti dari Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat Prov. Kalimantan Timur di peringkat terbaik ketiga.


Dalam kesempatan ini, Nining Widiyati menilai dengan mengikuti pelatihan ini sudah banyak menjawab pertanyaan terkait tugas-tugas dirinya dalam pelaksanaan konstruksi, khususnya konstruksi air limbah di lapangan. “Dari sisi materi menurut saya juga sudah sangat komprehensif dan detail mencakup banyak aspek, mulai dari aspek perencanaan, aspek manajemen pra konstruksi, manajemen konstruksi juga SMK3,” tambah Nining.


Disamping itu, Nining menambahkan banyak materi out of the box yang diajarkan dalam pelatihan ini, seperti materi geologi dan hidro geologi dan berharap materi seperti ini dapat diperbanyak agar dapat memperkaya pengetahuan selain pengetahuan yang sudah standar untuk diketahui.


Hal hampir senada juga disampaikan Nurhayati Junaedi, dirinya mengaku banyak memperoleh banyak pengetahuan yang sangat bermanfaat dari pelatihan ini, diantaranya pengetahuan tentang aspek geologi dan stabilitas tanah. Menurutnya pengetahuan ini sangat penting karena mayoritas pekerjaan TPA dan IPLT berhubungan dengan kondisi geologi lokasi pekerjaan dan tanah. Dengan pengetahuan ini, dapat digunakan untuk menganalisa kondisi geologi dan kondisi tanah pada lokasi pekerjaan sehingga dapat terdeteksi risiko yang akan terjadi pada tahap pelaksanaan. Sehingga dapat meminimalisir kerugian yang terjadi pada tahap pelaksanaan.


Nurhayati menambahkan, dengan mengikuti pelatihan ini turut merubah cara berpikir dirinya dalam menentukan strategi dalam pekerjaan kedepan. “Dari hasil pelatihan ini, saya dapat menerapkan strategi dalam melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan pelaksanaan pekerjaan bidang sanitasi yang berada di BPPW dengan melakukan manajemen risiko terhadap pekerjaan yang dimonitor serta berfokus terhadap item kegiatan yang memiliki level risiko tinggi untuk kemudian dikomunikasikan dan dikoordinasikan dengan pihak PPK,” tutup Nurhayati.

Apakah informasi di atas cukup membantu?

Berita Terkait