Slide 1

Berita Berita Ditjen Cipta Karya > WUF 9 Wujudkan Kota Berkelanjutan


Selasa, 06 Februari 2018, Dilihat 367 kali

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Ditjen Cipta Karya ikut berpartisipasi dalam Sesi ke-9 Dorum Kota Dunia atau World Urban Forum (WUF 9) di Kuala Lumpur, Malaysia, selama 7 hari (07-13/02/2018). WUF 9 ini merupakan forum sesi pertama yang akan fokus membahas implementasi New Urban Agenda sejak diadopsi pada Konferensi Habitat III di Quito, Oktober 2016 lalu.
 

Hal tersebut dikatakan Dirjen Cipta Karya Sri Hartoyo yang didampingi Direktur Keterpaduan Infrastruktur Permukiman (KIP) Dwityo A. Soeranto, dan Sesditjen Cipta Karya Rina Agustin saat melakukan konferensi pers di Jakarta, Selasa (06/02/2018). 

Dalam WUF 9 tersebut menggarisbawahi perkembangan kawasan perkotaan yang pesat. Hal ini menjadi tantangan mengingat isu-isu perkotaan yang secara langsung muncul akibat perkembangan tersebut. New Urban Agenda (NUA) atau agenda baru perkotaan merupakan komitmen negara-negara dan kerangka kerja yang menyusun bagaimana perkotaan harus direncanakan dan dikelola agar mampu mendukung urbanisasi yang berkelanjutan. 

Dirjen Cipta Karya Sri Hartoyo menjelaskan, prinsip NUA antara lain memberikan kesempatan pada seluruh pihak untuk berpartisipasi pada pembangunan ekonomi perkotaan yang inklusif dan berkelanjutan, melibatkan semua orang artinya semua orang dapat mengakses infrastruktur fisik dan sosial, layanan dasar, dan juga perumahan yang layak dan terjangkau, serta mewujudkan lingkungan hidup yang berkelanjutan. 

“Terdapat lima elemen kunci NUA diantaranya, pembangunan harus melindungi semua penduduk baik yang tinggal di kawasan permukiman formal maupun informal, serta pembangunan lingkungan harus berkelanjutan dan berketahanan termasuk di dalamnya terhadap perubahan iklim. Sementara, Indonesia memiliki titik berat kepada upaya pengurangan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja dan disparitas atau kesenjangan,” ujar Sri Hartoyo. 

Sri Hartoyo mengungkapkan, hal tersebut dapat tangani melalui pembangunan infrastruktur permukiman, program padat karya seperti Pamsimas, Sanimas, TPS 3R, PISEW, KOTAKU, pembangunan irigasi, dan perumahan swadaya. Selain itu, dalam mengatasi kesenjangan, Ditjen Cipta Karya telah membangun PLBN, pengembangan infrastruktur permukiman di pulau kecil terluar dan kawasan perbatasan, serta daerah terpencil lainnya. 

WUF 9 ini akan memobilisasi para aktor ditingkat global guna mendukung visi bersama dalam pembangunan perkotaan yang berkelanjutan dengan mengedepankan pencapaian agenda 2030 serta SDGs. Setiap negara anggota diminta untuk melaporkan progres pelaksanaan agenda baru perkotaan. 

Dengan partisipasi pada WUF 9, Indonesia dapat menyampaikan pembelajaran Indonesia dalam membangunan perkotaan sesuai agenda baru perkotaan, mendorong Pemerintah Daerah, Kementerian atau Lembaga serta Perguruan Tinggi untuk turut serta mengetahui isu-isu global terkait agenda baru perkotaan. Dan juga dapat mengambil pelajaran dari negara lain dalam penyiapan dan penerapan agenda baru perkotaan. 

Indonesia menjadi salah satu negara yang berkontribusi aktif pada forum ini dengan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang ada antara lain side eventsurban library, dan  dialog dengan menghadirkan Deputi Bidang Pengembangan Regional Bappenas yang akan memaparkan “National Urban Policies”, Walikota Surabaya dengan  paparan “Governance and Legislative Frameworks”,  dan Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri dengan tema “Urban Planning and Design for Local Implementation”. Selain itu, Indonesia juga akan berpartisipasi pada rapat ke-2 Biro APMCHUD 6, Ministers Roundtable, dan High-Level Roundtable. Sementara, melalui Indonesian Pavilion diperkenalkan program-program yang terkait permukiman dan pembangunan kota berkelanjutan.(kompuck)