Slide 1

Berita PUPR > Teknologi Jembatan Gantung "Judesa" : Solusi Alternatif Hubungkan Antar Desa


Kamis, 11 Januari 2018, Dilihat 428 kali

Jakarta -- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Badan Litbang Kementerian PUPR mengembangkan berbagai inovasi teknologi infrastruktur PUPR. Salah satunya yakni teknologi jembatan gantung yang diberi nama Judesa (Jembatan untuk Desa Asimetris). Judesa merupakan salah satu terobosan untuk meningkatkan konektivitas antar-desa, yang pada gilirannya akan mendorong perkembangan ekonomi pedesaan.

Pengembangan teknologi tersebut juga merupakan implementasi Nawacita ketiga Presiden Jokowi yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Dengan Judesa, dapat menghubungkan antar-desa atau kawasan terpencil yang dipisahkan oleh kondisi alam yang seperti sungai, lereng, bukit, ataupun jurang.

“Jembatan gantung ini sangat diperlukan dalam menghubungkan desa ke desa, atau kecamatan ke kecamatan. Sebenarnya kebutuhan jembatan gantung jumlahnya ribuan baik di Jawa dan Luar Jawa, sangat banyak sekali. Tahun 2018 menargetkan bisa membangun 300 unit jembatan," kata Presiden Joko Widodo saat peresmian jembatan gantung di Jawa Tengah, September 2017 lalu.

Judesa adalah jembatan gantung untuk pejalan kaki ataupun pesepeda motor di pedesaan dengan biaya murah dan pelaksanaan pembangunannya melibatkan masyarakat setempat. Pembangunannya diharapkan dapat membantu menghilangkan hambatan masyarakat pedesaan untuk mendapatkan akses pendidikan, informasi, pemasaran hasil pertanian, dan barang/ jasa yang dibutuhkan untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Judesa mampu mengakomodasi bentang 30 hingga 120 meter. Untuk bentang kurang dari 60 meter menggunakan tipe asimetris satu pylon sedang bentang diatas 60 meter menggunakan dua pylon atau disebut tipe asimetris ganda. Penggunaan satu pilon dimaksudkan untuk mengurangi biaya material struktur jembatan dan memberikan kemudahan dalam pembangunan. Pelaksanaan konstruksinya membutuhkan waktu sekitar 120 hari.

Judesa memiliki beberapa keunggulan yang membuatnya sangat pas untuk diterapkan di kawasan terpencil, yaitu fleksibel dan ekonomis. Keunggulan tersebut antara lain ialah materialnya merupakan pre fabrikasi sehingga dapat disiapkan untuk dikirim ke lokasi. Kemudian sistem jembatan modular yang memberikan kemudahan pembangunan dengan swadaya masyarakat.

Metode konstruksi Judesa satu arah/dari satu sisi sungai sehingga cocok untuk membuka jalur perintis dan mengurai pengangkutan material menyebrangi sungai.

Balitbang Kementerian PUPR melalui Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi telah melaksanakan ujicoba sejak Tahun 2015 di Desa Cihawuk dan Desa Cibeureum, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Pada tahun 2017 dilakukan replikasi perdana yang berlokasi di Desa Siru dan Desa Wae Wako, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sebelumnya dipisahkan oleh Sungai Wae Laci namun kini terhubung dengan adanya Judesa sepanjang 62 meter. Biaya yang diperlukan untuk membangun Judesa di Kabupaten Manggarai tersebut adalah Rp 1,5 milyar.

Kepala Desa Wae Wako, mengaku bersyukur dengan adanya Judesa tersebut sebab masyarakat dapat menempuh perjalanan lebih singkat dari semula 15 km menjadi 5 km menuju Ibukota Kecamatan. Judesa juga bermanfaat untuk memasarkan hasil produksi pertanian dan akses menuju tempat pendidikan.

Kontraktor lokal di Kabupaten Manggarai Barat telah terbukti mampu membangun Judesa dengan melibatkan masyarakat. Oleh sebab itu, Kabupaten Manggarai Barat merencanakan untuk membangun tambahan jembatan Judesa dengan biaya APBD di lokasi lain. (*)